Lama-lama aku bisa gila. Tidak ada yang memaksa Andre untuk tetap selalu berada di dalam pikiranku, namun sosoknya tak pernah pergi.
Aku terganggu olehnya. Sudah lama. Tapi tahukah kau apa yang lebih menggangguku? Mendapati dirinya tidak lagi berada di dekatku. Melihat dirinya dari jauh, bukan dari jarak yang hanya beberapa senti. Dan tanpa aku sadari, aku terus menatap dirinya.
Aku bisa gila.
Mengbo tidak pernah menyadari ada yang berbeda dariku. Aku sudah tidak punya tempat di dalam pikiranku untuk memperhatikannya, sadarkah dia? Oh ya, tidak. Aku menjauhi kamu, Bo!
Kemarin Andre sakit.
Period. Nothing more. Mungkinkah ia sakit seperti itu karena telah lama bulan berganti dilewati oleh dirinya tanpa sedikit pun berdekatan denganku? Bukannya aku mau berdekatan dengannya, hanya saja hati ini menjadi pilu melihat dirinya.
Andre sakit.
Dan bayangan wajahnya yang tak ceria menusuk-nusuk ingatanku. Membuatku rabun. Kemudian tiba-tiba tak bisa melihat apapun yang sebenarnya. Ya, aku tidak bisa mengetahui mana yang benar-benar nyata dan mana yang hanya ilusi.
Sampai kapan aku bisa bertahan?
Tempat seorang manusia biasa menceritakan apa yang terlintas di pikirannya dan kisah-kisah yang menyentuh hatinya dalam hidupnya...
LIFE LIFE LIFE
we do nothing except trying alive
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Februari 2011
Rabu, 28 Juli 2010
Tentang Audrey (Lanjutan.)
Aku duduk termenung tanpa tau harus berpikir apa.
Tak pernah lagi kumau bertemu dengan makhluk itu lagi setelah saat itu.
Sulit bagiku memaafkan orang seperti dia.
Sayangnya justru kepadanyalah aku terlalu cinta.
Mengapa kutak hanya cinta kepada Mengbo saja?
Jelas ia yang ada di dekatku,
jelas ia yang perasaannya tak pernah ditutupi kepadaku.
Mengapa harus si Andre gila itu?
Aku juga sering tak habis pikir pada diriku sendiri ini.
Dilihat darimanapun, tak ada yang baik dari seorang Andre Matanatua Siahaan itu.
Ia selalu kasar terhadapku meskipun sebenarnya ia sedang mengurusiku..
Ia tak pernah berhenti menghubungiku, setiap hari, untuk menanyakan kondisiku..
Saat bertemu denganku, ia selalu langsung menghampiriku, menarik paksa tanganku ke arahnya, dan langsung bertanya kondisiku, aku tau lambungku terlalu sering protes, tapi bukan berarti aku harus setiap hari menerima perlakuannya itu kan?
Tiga poin saja sudah membuat aku kelelahan untuk memikirkannya.
Dan hatiku mencari-carinya.
Sumpah aku sebal.
Mengapa hati dan pikiranku sering sekali tak sejalan?
Aku harus apa?
Aku harus bagaimana?
Sudahlah,
lebih baik aku tak memikirkannya lagi.
Tak pernah lagi kumau bertemu dengan makhluk itu lagi setelah saat itu.
Sulit bagiku memaafkan orang seperti dia.
Sayangnya justru kepadanyalah aku terlalu cinta.
Mengapa kutak hanya cinta kepada Mengbo saja?
Jelas ia yang ada di dekatku,
jelas ia yang perasaannya tak pernah ditutupi kepadaku.
Mengapa harus si Andre gila itu?
Aku juga sering tak habis pikir pada diriku sendiri ini.
Dilihat darimanapun, tak ada yang baik dari seorang Andre Matanatua Siahaan itu.
Ia selalu kasar terhadapku meskipun sebenarnya ia sedang mengurusiku..
Ia tak pernah berhenti menghubungiku, setiap hari, untuk menanyakan kondisiku..
Saat bertemu denganku, ia selalu langsung menghampiriku, menarik paksa tanganku ke arahnya, dan langsung bertanya kondisiku, aku tau lambungku terlalu sering protes, tapi bukan berarti aku harus setiap hari menerima perlakuannya itu kan?
Tiga poin saja sudah membuat aku kelelahan untuk memikirkannya.
Dan hatiku mencari-carinya.
Sumpah aku sebal.
Mengapa hati dan pikiranku sering sekali tak sejalan?
Aku harus apa?
Aku harus bagaimana?
Sudahlah,
lebih baik aku tak memikirkannya lagi.
Sabtu, 22 Mei 2010
Tentang Audrey
Aku tak ingat saat itu bagaimana mentari sedang bersinar,
atau angin sedang meniup kencang,
yang aku ingat hanyalah awan menutupi bumi, mendung..
dan aku ingat sorot matamu, sangat menyebalkan...
aku sudah tak tahan,
Aku tertohok mendengar ucapannya.
Yang kuingat selanjutnya hanyalah aku berlari menjauhinya,
dan tak pernah ingin berhenti.
atau angin sedang meniup kencang,
yang aku ingat hanyalah awan menutupi bumi, mendung..
dan aku ingat sorot matamu, sangat menyebalkan...
aku sudah tak tahan,
"Memangnya kamu tau apa tentang aku? Memperhatikan juga tidak."
"Itu yang menurut kamu. Memangnya kamu pikir kamu Tuhan. Kamu ngga perlu sok baik di depan aku."
"Memangnya siapa yang bilang aku baik? Asal kamu tau, aku ngga pernah terpikir sedikit pun untuk bersikap baik ke orang kayak kamu!"
"Orang kayak aku? Orang kayak gimana yang kamu maksud? Harusnya kamu sadar bahwa, bahkan, dibandingkan dengan aku, kamu jauh lebih munafik!"
"Ngga ada satu pun manusia yang akan ngaku kalau dirinya lebih munafik dibandingkan orang lain, Ndre!"
"Aku ngga pernah nyangka bisa suka sama kamu, yang ngga pernah berhenti labil dan bersikap munafik di depan semua orang."
"Aku ngga peduli. Kamu tau pasti aku benci banget sama kamu."
"Dan sebenarnya kamu cinta aku sampai mati kan, Audrey?"
Aku tertohok mendengar ucapannya.
Yang kuingat selanjutnya hanyalah aku berlari menjauhinya,
dan tak pernah ingin berhenti.
Langganan:
Postingan (Atom)