LIFE LIFE LIFE

we do nothing except trying alive
Tampilkan postingan dengan label ruang waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ruang waktu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

KKN di Subang

LOL. bukan saya kok yang sedang melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di Subang itu. Melainkan sahabat karib saya yang sedang disana. Sudah hampir satu bulan dia disana, jadi wajarlah kalau akhirnya saya kangen dia. Apalagi terakhir kali kami bertemu adalah saat saya tiba-tiba sakit beberapa waktu silam.

Tepatnya di daerah Darmaga, di deket Gunung Cisalak yang menjadi tempat mata air Aqua berasal. Saya, pacar saya, dan pacar sahabat karib saya itu hanya perlu menempuh waktu kurang dari dua jam untuk sampai ke tempat tersebut. Kami berangkat pukul setengah sembilan lebih dan sudah tiba di tempat tujuan pukul sepuluh tepat.

Udara kota Bandung di pagi hari sudah tercemar oleh asap kendaraan bermotor. Namun ketika kami memasuki kawasan Lembang, kesejukan pagi masih bisa terasa. Meskipun disana juga ada kendaraan bermotor. Hijau banyak memenuhi pemandangan di sebelah kiri dan kanan kami. Dan yang paling saya sukai adalah menyerap warna hijau yang berasal dari kebun teh.

Sesungguhnya saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai KKN yang dijalani sahabat saya. Fokus utama saya lebih kepada perjalanan yang kami lalui hingga sampai di tempat sahabat saya itu. Karena yang mengisi pemandangan kami tidak hanya sekedar warna hijau.

Ada banyak nanas yang bergelantungan di warung warung yang kami lewati sepanjang jalan. Kemudian muncul juga bentuk rupa salak. Juga manggis, yang sangat saya sukai. Hingga buah yang saya yakini kelengkeng namun ditentang mentah-mentah oleh pacar saya.

Sedikit perusak perjalanan ini adalah tamu bulanan saya yang tiba-tiba saja datang. Dan membawa rasa sakit yang begitu dalam. Tamu dengan rasa sakit yang tak muncul di saat yang tepat. Jadi setelah sampai di rumah singgah sahabat saya selama di Subang, saya mengistirahatkan diri dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan lagi. Karena pacar sudah ingin kembali jalan berputar-putar sekaligus makan dan membelikan saya sebotol Kiranti yang bisa sedikit membantu untuk meredakan rasa sakit, akhirnya saya pun menguatkan diri untuk bangkit.

Kami -saya, pacar saya, sahabat saya, dan pacar sahabat saya- berangkat pergi mencari makan. Ketika sudah sampai di pertigaan Cagak, sahabat saya mendapat kabar untuk segera kembali sebentar. Jadilah kami berputar arah kembali. Namun karena rasa sakit yang saya rasakan masih ada, saya pun meminta pacar saya untuk berjalan perlahan. Lalu kami berdua sepakat untuk berjalan pelan sekaligus mencari buah-buahan yang bagus untuk kami beli.

Satu, dua, tiga lapak kami lewati, hingga entah lapak keberapa saya putuskan bahwa disanalah terdapat buah manggis yang berkualitas cukup baik, kelihatannya. Tawar menawar, saya ambil satu jalinan ikatan manggis dan pacar saya membeli satu buah nanas dengan kualitas yang lebih baik dari nanas lainnya yang ditawarkan juga. Pacar meminta nanas dibersihkan dan mengajak saya untuk langsung makan di tempat. Jadilah kami berhenti menikmati buah-buahan tersebut itu dulu. Setengah nanas sudah habis dan empat buah manggis diambil, pacar tertarik pada duren. OKE, ada duren juga. Masalahnya adalah saya tidak suka duren. Dan pacar tetap memilih duren, lalu membelinya dan memakannya di tempat. Saya langsung menyingkir. Hahahahahaha, saya memang seanti itu dengan duren. Untungnya bukan jenis duren montong yang saya hadapi itu. Sehingga saat saya mendekati pacar saya lagi, ia tidak terlalu menyebarkan bau duren. Intinya, pacar saya makan banyak buah hari ini.

Dan dia lucu sekali! Hehehehehehe...

Baiklah. Itu saja sih yang mau saya ceritakan. Oh ya, kami berempat akhirnya tetap pergi makan bersama. Soto di sebuah warteg di dekat pertigaan Cagak. Menggunakan santan sebagai bumbunya sih, tapi rasanya lezat kok! Dan setelah makan, kami berpisah jalan karena saya dan pacar memutuskan untuk langsung pulang saja. Mumpung rasa sakit di perut masih bisa ditahan. Begitu kesepakatan saya dan pacar. Maka kami berdua pun batal mengunjungi mata air Aqua seperti yang sudah kami berempat bicarakan di awal. Sayang sekali memang. Tapi hari ini tetap tidak kalah menyenangkannya!

Kamis, 01 Desember 2011

Days Without Rest

My last post was a month ago.
Well,
sebulan telah berlalu. Waktu yang datang dan pergi tanpa derapan ragu. Banyak hal yang terjadi di dalam hidup selama itu. Live like you're dying, so a month was a long time to enjoy. Apa aja yang bisa kamu dapat dari sebegitu banyaknya hal yang telah terjadi di dalam kurun waktu tersebut? Should be a lot. And it is.

Mulai dari persiapan ulangtahun si adek, workshop untuk si summer program-nya IRO, seminar penginderaan jauh yang keempat, group discussion bareng BNPP di Lembang, beauty class yang disponsori oleh Body Shop sama Wardah, sampai akhirnya hidup aku (terutama si ibu Adzani Septarini)cuma dipenuhi oleh PWK dan persiapan untuk pelantikan si anak-anak 2010 untuk bergabung di dalam IMG. Engga terlalu banyak ya ternyata? Tapi heboh lho itu. Oia, tumpukkan tugas kuliah, hal yang paling bisa bikin hectic malah lupa kesebut...

Sekarang udah tanggal 01 Desember aja. Di depan mata menyongsong ujian akhir semester, beserta tugas-tugas besar, tugas-tugas akhir semester, dan laporan praktikum yang ada di semester ini. Juga ada laporan kerja praktek yang menunggu dikerjakan dan tugas akhir yang udah harus mulai dicicil (karena kemungkinan besar pak Poerbandono, pembimbing tugas akhir yang paling aku sayang, tidak akan berada di Indonesia sekitar bulan April dan seterusnya). So I still have to keep my spirit and do the best for my days. Again, live like you're dying.

Postingan aku kali ini engga terlalu bersifat perasaan. Karena aku engga mau terlarut dalam perasaan aku dulu, energi yang aku punya sekarang harus dialokasikan untuk mengerjakan hal-hal dapat mengancam keberlangsungan hidup aku selanjutnya. Perasaan juga berhubungan dengan keberlangsungan hidup kok, cuma engga untuk dibahas sekarang aja, engga masalah kan?

Cheers,
Nurashi

Senin, 10 Oktober 2011

Tulisan setelah Hujan - Part.2

Hujan datang di tengah keramaian. Sehingga tak ada waktu lagi untuk sempat merasakan kesepian yang ada di lubuk hati terdalam. Celotehan semua orang selalu saja mengisi ruang. Tak memberi kesempatan hati untuk merindukan.


Sudah tak ingin lagi sesungguhnya ada harapan tentang ia. Sudah dikatakan oleh kami di dalam hati bahwa jalan sudah di ujung dalam pencapaian cinta. Sudah terlalu terasa lelahnya hati ini selalu memikirkan ia. Sudah terlalu lama hari ini berlari terbang ke angkasa dan kemudian juga jauh berdebam keras karena cinta. Sudah takkan ada lagi kecemburuan setiap kali ada orang lain bersama dirinya.


Namun ada hal-hal indah yang takkan mati tentang dirimu. Dan hari-hari seakan terisi oleh bayangan dirimu. Hati menolak terluka olehmu. Namun hari menghirup kehausan penuh dirimu. Bisa kuhentikan harapan penuh di hati akan kamu. Hanya saja tak pernah bisa kuhentikan kerinduanku padamu.


Tak kukatakan diriku berdiri di persimpangan. Aku sudah memilih suatu jalan dan menempuhnya. Namun bayangmu kuat dan tak pernah menyerah untuk selalu ada. Sehingga tanpa kusadari, sesungguhnya ku tak pernah berhenti memikirkan dirinya.


Menjerit di kala sepi. Menangis di kala sendiri. Perasaan memenuhi dada ini.


Hujan menitik di setiap kulitku. Aku berlari menghindarinya semampuku. Genangan air berlalu cepat di bawah sepatuku. Langit hanya menatapku sendu.


Hujan, aku rindu ia.
Hujan, aku baru bertemu lagi dengannya.
Hujan, aku tak ingin lagi berpisah dengannya.


Aku tak peduli lagi.
Jika rasa ini terus ada. Dan harapan mulai terasa nyata. Mungkin aku akan melangkah ke tempat yang berbeda.


Tuhan, siapakah ia?

Kamis, 22 September 2011

Tulisan setelah Hujan - Part.1

Kini aku menulis kisah tentang dirimu...
karena rindu tak bisa terbendung lagi di hatiku...
hati ini hingga menjerit menginginkanmu...

Mengapa kau tak muncul lagi di hadapanku?
Mengapa kau tak mewarnai lagi hariku?
Mengapa kau tak menghangatkan lagi hatiku?

Aku ingin menjerit memanggilmu,
meneriakkan namamu tak hanya di hatiku,
hingga kemudian kudapatkan kepastian hatimu...

Hujan turun mewakili air mataku,
yang sudah terlalu penuh menahan kerinduan kepadamu,
karena hari tak terasa jika tak ada dirimu...

Kemanakah kamu?
Aku mencarimu..
Tolong janganlah lagi tak mencintaiku...

Senin, 19 September 2011

Unforgettable Moment in this September

I've been in so many places this year. It just suddenly started and I would like to never stop it. I like it anyway. In good ways, in my ways. As long as I still be me. And I am. Maybe better? Out of topic. LOL.


In September 18th and 19th, I went to Seribu Island, specifically Pramuka Island. And I have our moment in Semak Daun Island. We have some problems. But I still could enjoy the trip. Turns out I actually had so much fun in it. Just like our last trip. Even we don't have the same member again, it still is a FUN!


The dark skies in Bandung. Long highway road. The stinky smells. Boat Ship, Bhumi Wari. Those nice skies in Semak Daun. Those skies above the sea. Colorful fishes. 
||
Upset. Angry. Madness and Laughing then. The freaky Madness and those great Laughing. Love them. Adore them. 




Clock never stops ticking.
I love those moments, those write here or not.

Kamis, 14 April 2011

tulisan di Tengah Hujan - Part.9

Ada hujan deras terdengar dari sini. Dari keremangan kelas yang tak memili nilai kecil untuk masa depanku nanti. Di antara orang-orang yang kusayangi dan tak ingin kubenci. Dikekang tatapan duri. Saat mata memaksa untuk mengakhiri. Dan raga ingin yang lain lagi.

Hujan semakin deras terdengar. Mata semakin ingin menutup kelopaknya dan perut masih menggaruk-garuk dindingnya. Bapak dosen pengajar Foto masih membicarakan hal sama. Menarik namun agak rumit untuk dimengerti. Bukannya aku tidak ingin memperhatikan, hanya saja aku tidak sengaja tidak memperhatikan.

Mata semakin ingin menutup. Pikiran semakin melayang entah kemana. Untuk mulut masih menutup dan masih engga berkomentar apa-apa. Aku terkejut, bapak dosen akan memberikan tugas untuk kami. Maka marilah kemari agar saya semakin mengerti.

Kemudian diungkitnya ujian oleh beliau. Nilai yang kemarin saja masih rancu. Maka tak berani berharap lebihlah aku. Hawa dingin sang rintik air dari awan menyelimutiku. Mata pun semakin mendorong sang kelopak untuk menutup. Apakah yang ditunjukkan oleh bapak sudah tak terlihat atau aku yang sudah mengerti tapi masih tak pasti.

Petir mulai menyambar, hujan tidak mereda. Aku akan pergi setelah ini. Maka harus berlindung aku kemana lagi? Bapak aku ingin berteriak dan menjelaskan. Bahwa aku tidak ingin tak memperhatikan melainkan mengerti!

Lapar menganggu diri. Dingin menrasukin hati. Dan hujan memasuki nurani.

Berjalan pun waktu menuju pikiranku tertuju...

Hujan deras bahkan tak mampu menghalangi niatku. Wujud berparas pun takkan mengalihkanku.

Aku pergi ke tempat itu. Tempat tak menyala namun menerangi ragaku. Dimana aku mampu mengernyitkan muka dan menyunggingkan senyuman. Tempat aku bisa berputar dan menari tanpa henti. Jika jarum di dinding itu dibuang pergi.

Ada guruku. Ada temanku. Ada temanku. Ada temanku. Ada bayangan dirimu. Sepertinya kau takkan pergi atau menjauh. Hanya saja mengapa semua masih terasa tak pasti tentangmu. Mungkin ini semua hanya buatanku.

Semua tersenyum. Guruku. Temanku. Temanku. Temanku. Aku. Namun tak ada senyummu. Tak ada senda guraumu. Tidak ada yang menyebalkan untukku. Karena tak ada kamu.

Disini aku menari dan bernyanyi dalam hati. Mengisi jiwa ini dan menggerakkan raga duniawi. Sejenak hanya kau yang muncul tadi. Lalu kemudian hanya ada diri ini. Dan alunan melodi. Satu saja salah melangkah kaki, hancurlah akan semua alunan indah ini. Melodi ini tiada henti. Maka takkan ada yang bisa menghentikan kaki. Dan tubuh yang juga mengikuti melodi.

Melodi yang terus mengalun beserta hujan yang mengiringi..

Bandung, 14 April 2011

Senin, 11 April 2011

Tulisan di Tengah Hujan - Part.8

Baru jam 3 siang. Tapi aku sudah tidak bisa membaca tanpa menyalakan lampu di dalam kamarku. Tak lama kemudian ponsel bergetar dan berbunyi. Dan harus bergegas pergi. Lalu hujan terdengar tak hanya rintik.

Hujan. Plesiran.
Bukan dua paduan favorit aku. Apalagi kalau jalanan dihadapanku sudah penuh digenangi air dan hujan yang turun seperti tidak mau kompromi untuk berhenti.

Hujan. Kampus.
Baru bisa menjadi favorit. Pilar berbatu khas kampus membuat hujan terlihat semakin cantik. Dan bersyukurlah diriku yang mendapat gedung di bagian depan, karena perjalanannya dipenuhi pilar berbatu. Tidak seperti layaknya di bagian kampus utara, atau biasa aku sebut kampus belakang.
Hujan senang sekali menyiramkan kabut ke dalam mataku. Menimbulkan efek kelabu karena awannya. Hari cerah itu indah. Hanya saja awan yang kelabulah yang pantas mendampingi hujan. Dan udara sejuk perpaduan mereka juga menjadi favoritku. Angin dingin yang menggelitik tubuh. Hembusan udara yang membisik telinga. Indah dan menyenangkan. Mengosongkan pikiran. Menghilangkan gundah gulana.

Memang obat kehidupan yang tiada duanya. Lihat ke dalam dan kau akan menemukan kedamaian. Keindahannya akan selalu ada. Udaranya takkan menghilang.

Nikmati saja, tanpa perlu berpikir apa-apa. 


Bandung, 11 April 2011

Tulisan di Tengah Hujan - Part.7

Kamarku sudah gelap. Hanya tinggal nyala lampu belajar yang menggantikan remang-remang lampu pengantar tidur. Aku masih memikirkan dirinya.

Tak bisa tidur kutengok ponselku. Memikirkan teman-teman sekaligus ingin sedikit berkisah menjelang malam. Tentu saja kisah tentang dirinya.

Tubuh kurasa pilu dan perasaan terus tak menentu. Memejamkan mata tak juga menjadi jawaban indahku. Masih tentang dirinya.

Ku menatap langit kamarku. Tak berpikir. Lalu kudengar suara hujan menyirap. Tak kurasakan dinginnya namun kuterima rasa damai yang disampaikannya. Disampaikan oleh hujan.

Dan perlahan hujan membuai diriku, mengantar diriku menutup malam. Mulai kurasakan kata kata semakin terangkai tanpa bisa kularang.

Begitu inginnya aku merasakan pelukan hujan hingga aku memaksakan diri beranjak keluar kamar. Dan hujan seperti menyesap sejuk ke dalam kulitku juga terhirup hingga mendamaikan pikiran yang tak karuan.

Suara hujan semakin terdengar kencang. Deras tak tertahankan. Seperti kata-kata yang terangkai keluar saat ia datang. Tak peduli dimana kau sedang.

Kuterbaring di atas bantal. Begitu nyaman sendirian. Meskipun begitu kutak keberatan ada hujan. Yang menemani aku bermalam. Bahkan kurasakan angin yang datang bersamanya. Dan semakin merasa dibuai oleh hujan.

Belaian hujan menutup mataku perlahan. Ia menjatuhkan petikan musiknya dengan alunan. Membuka semua ketakutan. Dan menyembuhkannya. Sehingga semakin jauh ia memainkan lagunya, semakin ingin aku terlelap dan melupakan ketakutan yang ada.

Suaramu begitu indah. Aku jadi bisa melupakannya.


Hujan, sampaikan padanya, aku rindu ia...

Bandung, 10 April 2011

Kamis, 24 Maret 2011

Tulisan di Tengah Hujan - Part.6

Aku bosan memikirkanmu.

Lalu aku bertemu hujan. Bukannya aku sudah lama tak bertemu hujan, hanya saja hujan biasanya bisa memaklumi semuanya untuk pergi. Kali sudah tak bisa lagi. Kata kata ini mencumbu hujan tak ingin dilupakan pergi.

Aku menatap lampu-lampu di jalan yang silih berganti. Aku berdiri di tempatku tanpa ada pergerakan berarti. Bukan karena aku segitu inginnya menatap hujan, akan tetapi aku sedang menunggu peri.

Seorang hantu menghampiri. Aku tersenyum dan ia membalas dengan ramahnya. Aku jadi sedih mengingat banyak orang yang sering langsung ketakutan melihat dirinya. Atau yang menghina di belakangnya. Padahal mereka sedang mencari sesuap nasi. Hanya saja tak bisa dengan cara seperti kita ini. Terkadang juga sih. Dan terkadang semua itu salah mereka sendiri. Jadi tak tau bagaimana cara membela mereka. Yang pasti, yang satu ini takkan ragu kubela.

Hujan kini memberitahuku. Aku ini sebenarnya pemilih. Serta penanti. Yang begitu setia meski harus tersakiti. Apakah benar perwujudan seperti ini masih bisa memijakkan kaki di bumi?

Tuhan tau segalanya. Bahkan untuk seseorang seperti aku ini, Dia selalu membuka jalan-Nya. Pilihan yang ada di hadapanku, Ia yang menunjukkan. Pilihan yang akhirnya menemuiku, ia yang menakdirkan. Aku berusaha bertemu dengan takdirku bukan dengan berlari mencari. Akan tetapi dengan bersabar menunggu, di persimpangan yang telah ditunjukkan Tuhan. Kalau saat ini aku masih belum bertemu dengan peri pengisi hatiku, bukan karena ia takkan tiba, hanya karena aku yang telah lebih dahulu tiba. Tak perlu mengeluh akan penantian panjang yang tak pasti, karena banyak hal menarik yang sebenarnya mengisi. Selama matamu tidak sengaja ditutupi, dan hatimu membuka dengan senang hati. Tidak perlu terlalu banyak kunci. Hanya satu kunci sehingga kunci yang lain bisa kau ambil saat kunci yang tergantung terbawa air.

Air hujan...

Selalu membawa banyak kata untuk dirangkai. Hanya saja seringkali tidak memaksa untuk dikenang.

Periku tiba. Dan perasaan menjadi lega. Meskipun kulit yang menempel luka-luka. Mata kelelahan menatapan berjuta sinar berjuta. Hidung tak kuat menahan duka. Mulut asam tak berasa. Air penuh memasuki telinga. Tapi karena kamu ada, semua seperti disiram air sejuk tak terhingga. Ada perasaan nyaman di dada.

Tahukah kamu? Meskipun mulutku tidak spontan menunjukkan senyumnya, ia sedang tertawa. Aku bukan rupa yang bertopeng sejuta. Karenanya pintu hati terbuka. Dan kamu, bisa melihat semuanya.

Hanya saja, apakah kamu bisa menerima semuanya?

Bandung, 24 Maret 2011

Jumat, 18 Maret 2011

Referensi Cinta Sejati dari Kaskus...

mulai dari ciri-ciri tentang cinta sejati sampe contoh-contohnya.

terus ada cerita tentang seorang perempuan buta. dia janji sama cowoknya kalo dia akan menikah sama si cowok itu kalo dia udah bisa ngeliat. akhirnya pas dia bisa ngeliat, dia ngeliat kalo ternyata cowoknya buta. dia langsung pergi gitu aja ninggalin si cowok. padahal pendonor matanya itu adalah si cowok. dan padahal dulu orang-orang juga ngejauhin dia pas dia buta.
kenapa dia harus melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan orang lain yang tidak tau apa rasanya menjadi dirinya? People forget about many things anyway.

terus ada lagi kisah di v-clip, buatan orang korea kalo engga salah. sama-sama ceritanya tentang suatu kebutaan. jadi si ceweknya ini jadi buta karena suatu accident, yang bisa dibilang ketidakhati-hatian si cowok ini menjadi salah satu penyebabnya. terus pas si cewek udah bisa ngeliat lagi, si cowok uda pergi ninggalin dia. engga bilang apa-apa. semacam merasa bersalah kali ya. awalnya aku pikir seperti itu. tapi kemudian diketahui kalo si cowok ini ternyata melepaskan semua kehidupannya demi si ceweknya bisa ngeliat lagi. yap, dia ngedonorin matanya ke si cewek.
anehnya, kenapa di akhir cerita si ceweknya cuma nangis ngeliatin si cowoknya ya? I really don't get any message from the end.

jadi kapan aku bisa kembali bisa lebih percaya?

Rabu, 26 Januari 2011

"Tak Sebebas Merpati"

Kenapa merpati identik dengan kita?
Kenapa warna putih memenuhi pernikahan kita berdua?
Kenapa jari manis ini begitu pantas menggunakan cincin yang juga berada pada jemarimu?

Rona bahagia..

Tiada hari yang lebih indah dibandingkan dengan saat ku berikrar janji denganmu seluruh hidupku.
Segala rintangan telah lulus kita lalui tak peduli apapun yang telah diberitakan orang sebelumnya.
Di hadapanku tiada orang lain selain dirimu yang selalu menghidupkan diriku.

Terimakasih kau terima..
Pertunangan indah ini,
bahagia meski mungkin tak sebebas merpati...

Saat itu,
tak lelah ku sunggingkan senyuman,
tak lelah ku melihat jemari manisku yang telah menjadi tanda milikmu,
tak lelah ku mengulang kejapan mata untuk memastikan dimana ku berada,
tak lelah ku menatap wajahmu yang memancarkan warna rona yang sama denganku,
tak lelah ku memikirkan sisa waktu di kehidupan kita yang akan kita jalani bersama...

"Soulmate"

I'm always looking for you,
even I haven't any trust in love.


Seakan-akan, sebenarnya di ujung jalan pencarian itu sudah ada tangan yang menanti, siap menyambut kedatangan bagian dirinya yang juga sedang mencari. Seakan-akan sejauh kaki berjalan, tangan menggenggam, dan mulut bertutur kata, semuanya menyerukan tentang dirinya. Seakan-akan ia berada begitu jauh karena tanpa disadari sebenarnya dia berada begitu dekat, bahkan terlalu dekat untuk terlihat.


Aku bukan lagi orang yang begitu percaya akan cinta. Ataupun percaya pada ucap janji semata. Tapi aku masih percaya tentang apa yang terjadi di kehidupan. Dan aku percaya kamu akan datang. Karena aku percaya kamu. Meskipun kamu masih kasat mata. Tapi aku yakin kamu ada.
Karena kamu memang hanya tercipta untukku..


#
Meskipun tak mungkin lagi,
'tuk menjadi pasanganku,
namun kuyakini cinta,
kau kekasih hati..

"Mantan Terindah"

Sebenernya aku belum pernah punya mantan. Cuma emang pernah punya seseorang yang mengisi bagian terindah dalam hidup aku. Meskipun apa yang aku dapat dari dia engga hanya yang manis-manis, tapi dia tetap bisa menjadi sesuatu yang indah di mata aku. Dan meskipun orang itu bukan siapa-siapa aku, orang itu juga udah ngasih banyak banget pahit-manis cinta yang dipuja-puja sama anak SMA.


Mau dikatakan apalagi, kita takkan pernah satu,
engkau disana, aku disini,
meski hatiku memilihmu..


Namun lagu ini aku nyanyiin tanpa bayangan masa lalu itu. I'm so clear of him. Perlahan namun pasti, kita yang punya perasaan yang ingin dilupakan kepada seseorang yang engga seharusnya, pasti bisa melupakan perasaan tersebut. Memang engga ada yang instan kan di dunia ini?


Lagu ini bisa menyentuh banget keseluruhannya. Lagu ini utuh, dan merasakan perasaan terhadap seseorang yang tak tergapai. Terus aku sampai sekarang masih belum bertemu dengan orang yang ditakdirkan bersama aku. Jadi, percaya atau engga, lagu ini tuh bisa membuat aku merasakan perasaan yang begitu merindukan seseorang yang masih begitu jauh dari diriku.


Syahdu, ya kan?


Tapi sebenernya kalo mau lebih mendalami lagu ini lagi, mendengarkannya baik-baik, lagu ini bisa digunakan sebagai senjata untuk menjaga hati lho. Karena pasti aku bisa jadi lebih melankolis lagi kalau sampai aku punya mantan, yang alhamdulillah-nya engga. Baiknya aku bersyukur kepada Allah aku masih dilindungi =) Jadi kalo aku sampe punya mantan, pasti jatohnya jadi kayak bait terakhir lagu ini. Unforgettable Moment..


Yang t'lah kau buat, sungguhlah indah..
buat diriku, susah lupa...

"Sempat Memiliki"

aku hancur,
ku terluka,
namun engkaulah nafasku..

kau cintaku,
meski aku bukan di benakmu lagi,
dan ku beruntung sempat memilikimu...


ini reffrain dari lirik lagunya yovie and the nuno yang judulnya saya jadiin judul tulisan kali ini. kenapa tiba-tiba saya menulis tentang sebuah lagu dari salah satu grup musik yang menghasilkan karya-karya yang indah di bumi belantika musik Indonesia ini? karena salah satu teman semasa sma yang sudah lama tak terdengar suaranya mengingatkan saya akan hal ini, perasaan sempat memiliki seseorang yang telah kau anggap berharga dalam hidupmu namun ternyata bukan ia yang dituliskan untukmu. lalu juga karena salah satu sahabat saya memainkan salah satu lagu tulisan yovie. jadilah saya teringat akan yovie and the nuno. dan saya pun disentil oleh lagu ini.

lalu, tanpa saya sadari, lagu ini adalah salah satu dari sekian banyak pikiran yang akhir-akhir ini menyarang di pikiran saya. mengapa saya harus bertemu seseorang yang ternyata bukan ditakdirkan untuk saya? saya berulang kali bertanya-tanya dan menyampaikannya kepada sahabat-sahabat saya mengenai pertanyaan tersebut. kenapa saya tidak langsung bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan untuk saya saja? biar cukup hanya kami berdualah yang terluka di dalam hubungan kami. namun salah satu sahabat saya sambil tersenyum penuh makna berkata bahwa justru itulah seninya. pencarian terhadap jodoh, orang yang ditakdirkan untuk kita. selain itu? tentu saja sebenarnya sebagai pelajaran. karena toh hidup memang tentang pelajaran bukan? hal apa yang tiada hentinya kita lakukan sejak kita berada di dunia ini selain bernapas dan menghirup nutrisi? belajar! bahkan sejak bayi kita sudah belajar.

jadi meskipun saya terus menerus protes akan semua kenyataan ini, saya tetap mengetahui bahwa memang sudah seharusnya seperti ini kehidupan itu. memang seperti ini kehidupan saya. tanpa tangis air mata dan gelak tawa entah itu sedang dalam keadaan bahagia ataupun terluka, semua itu membawa banyak hal yang berarti untuk saya. dan menjadi pelajaran hidup untuk saya. dan saya yakin, kita semua mengalami hal serupa. hanya saja dengan cara yang berbeda..

Sabtu, 01 Januari 2011

Bukan Dia Yang Seharusnya Jadi Kebingungan ...

Yang pernah terpikirkan awalnya adalah nasib para tukang parkir di kampus, apabila keadaan saat ini benar-benar terjadi. Penarikan tarif parkir di kampus dengan cara seperti yang di mall-mall itu. Electronic way. Sophisticated.

Kemudian ada suatu kejadian hari ini yang membuat aku berpikir lagi tentang yang di atas dan juga menggerakkan diriku untuk menulis disini. Lebih jauh.

Pengelola lahan parkir di salah satu mall yang berada di dekat perumahan aku berganti. Pengaturan lapangan parkir yang berbeda dan penempatan segalanya yang juga berbeda. Kabar mengejutkan awalnya datang dari supermarket yang ada di dalam mall ini yang sudah tidak memberikan potongan terhadap pembayaran parkir lagi. Baru berlaku di tahun yang baru ini. Hal tersebut membuat ibuku lebih tak tolerir lagi masalah parkir. Oh iya, aku lupa. Jadi tarif parkir disana itu sama kayak tarif parkir di Grand Indonesia. Well, different level but same price, we don't think so. Jadi ibuku sudah sangat bermasalah tentang hal itu. Nah, semakin engga tolerir kan ibuku ini. Kami pun segera bergegas agar tidak mengalami kejadian parkir selama '1 jam 1 menit'. Sayangnya ketika mau keluar pun ada antrian. Macet. Meskipun inginnya untung, sayangnya apa yang tidak kami inginkan justru kejadian saat ini. Kesel pastinya.

Salah satu penyebab kekesalan ini adalah mobil di depan kami yang terlalu lama berhenti di pos pembayaran. Dia juga protes. Sayangnya protesnya justru merugikan orang lain. Sudah masalah tarif parkir tertumpuk untuk dilontarkan, ada lagi yang membuat kesal, jadilah mengomel. Kalau sudah begitu bisanya mengomel ke siapa? Yang terkena imbas biasanya yang menyebabkan kekesalan pertama, terlebih kekesalan kedua terjadi karena kekesalan pertama. Jadilah. Sayangnya, petugas parkir ini adalah pihak yang tak ikut membuat keputusan namun terlibat dalam kelompok yang berpengaruh dan telah membuat keputusan itu. Maka, meskipun pada dasarnya petugas parkir tak mengerti apa-apa, dia yang akan terkena imbas omelan masyarakat.


Aku sih kasian ngeliat orang yang engga ngerti apa-apa yang kena imbasnya. Lesson from this story : 
Perhatiin bawahan kamu saat kamu jadi atasan.
Gitu aja sih.

Selasa, 21 Desember 2010

Membunuh Bosan Part.I

Di depanku ada seorang bapak tua yang sejak dulu kutau duduk di bangku itu. Bukannya aku tak menghargai pekerjaannya, usahanya untuk bekerja untuk kehidupannya, namun pasti aku iba melihatnya. Hati ini pasti bergetar...

Ada awal mula dari hal tersebut. Saatnya adalah saat aku kehilangan mbah kakungku dulu. Ada kisah dibalik saat tersebut. Ada banyak kejadian yang tak terlupakan, yang terkenang di jiwa dan mengendap dalam raga.

Beliau selalu menjadi mbah terbaik dan tersabar dalam ingatanku. Tak pernah mempunyai cela. Sayangnya dia akan selalu menyayangi adikku dibandingkan aku, bagiku. Kenanganku tentangnya juga tak sebanyak kenangan adikku. Yah kenyataan pun berpihak demikian. Selain itu, saat mendengar kabar dirinya yang jatuh sakit pun keputusanku tak berpihak padanya. Memang sih aku masih kecil, akan tetapi bukannya justru penilaian kita lebih murni saat kita masih kecil. Begitulah. Hal tersebut jugalah yang menjadi penyesalanku, aku yang sesungguhnya menyayangi mbah kakung sampai takkan pernah terlupa akan gambaran wajah sabar beliau.

Mungkin sejak kecil pula sebenarnya aku selalu merasa bimbang, harus memutuskan, dan bersalah kemudian akan apapun keputusan yang aku ambil. Peristiwa malam kabar mbah kakung jatuh sakit inilah yang menjadi buktinya. Jadi saat itu ada dua hal, pernikahan dan penyakit renta -yang kemudian berubah menjadi kematian. Ada dua hal, pihak ayahku atau ibuku. Pemikiranku saat itu bukanlah bahwa aku akan kehilangan mbah kakungku yang begitu berharga melainkan ayahku akan pergi sendirian, karena saat itu adikku sudah lantang menjawab akan ikut ibu. Hal ini pun membuat aku sadar kalau adikku memang selalu dewasa daripada aku, benarkah demikian? Namun karena kabar dari mbah kakung berubah, kami pun sekeluarga akhirnya berangkat semua.

Aku selalu sedih jika mengingat kalau aku tidak menangis saat melihat mbah Amin kakung tertidur tidak bergerak, tidak bernapas malah sebenarnya. Aku pun tak tau apa yang aku lakukan saat berjalan berputar-putar di bawah peti jenazah beliau. Namun tetap saja aku selalu ingat beliau saat tertidur itu, dari sudut pandang aku yang masih kecil saat itu. Mbah engga tergantikan kok mbah...

Kakak ibuku yang tertua mirip dengan beliau. Pakde, begitu aku memanggilnya, sudah pensiun dan tua, sudah punya beberapa cucu pula. Semakin pakde beranjak tua, semakin beliau terlihat serupa dengan mbah. Dan kemudian pakde dipanggil juga oleh sang kuasa. Kali ini aku menangis, aku bersedih, karena aku kehilangan pakdeku yang begitu berharga di saat terakhir hidupnya di dalam hidupku, dan juga karena seakan-akan aku membalas kesedihaku yang tertunda saat mbahku meninggal. Pakde bisa begitu kuat mengingatkanku akan mbah.


Sosok pria tua renta yang akan semakin menua hingga saatnya tiba.

Rabu, 08 Desember 2010

kalau saja seandainya di akhir soal ujian KDG ada soal bonus tentang komentar, kritik, dan saran perkuliahannya,

pasti gue bakalan nulis kayak gini :


Sebenernya saya semangat ikut kuliah bapak, soalnya selama ini saya selalu ngerti dan bisa mengikuti alur perkuliahan bapak. Tapi entah kenapa, di mata kuliah ini, saya engga semengerti itu. Prinsip bapak jelas-jelas engga berubah (saya tau soalnya bapak selalu mengutarakan itu saat bapak sudah kecewa dengan kami), prinsip saya juga masih sama. Sejauh ini saya selalu bingung kenapa saya jadi engga ikutin kuliah bapak dengan benar-benar. Sampai akhirnya sekarang, saat ujian berlangsung, saat saya mengerjakan soal-soal ujian, ujian akhir semester malah, saya akhirnya mengerti kenapa saya jadi sebegininya. Menurut saya, di mata kuliah ini bapak kurang ngasih latihan ke kita kita, bapak engga semerangkul kami lagi kayak dulu waktu masih awal masuk jurusan, bapak jadi sering marah-marah ke kami sekarang ini. Mungkin bapak emang kesel kali ya pak gara-gara kita engga bisa memenuhi harapan bapak, atau mungkin juga bapak bosen ketemu kita-kita, tapi seriusan pak, kembali ke masa bapak ngajar semester tiga dong pak, udah mata kuliahnya ringan, bapak entah mengapa ngajarnya asyik banget. Please pak, bapak boleh bosen, tapi ditahan-tahan aja deh pak. Tapi saya sih yakinnya bapak engga gitu, soalnya bapak orangnya baik kok, saya tau pak. Jadi pak, please, please, please, tolong kita sering adakan diskusi pancingan, diskusi sambil memvisualisasikan di pikiran masing-masing, diskusi sambil ngerjain soal. Hm, saya emang engga bisa menjamin kami bisa memenuhi harapan bapak sih, tapi paling engga it's better pak, serius deh. Insya Allah jadi lebih baik deh pak. Yaaaaa, pokoknya tolong dipertimbangkan ya pak. Makasih bapaaaaak...

Tapi setelah tadi di kamar mandi gue berpikir lagi, kayaknya engga mungkin juga  gue nulis kayak gitu, mungkin sih, tapi agak engga mungkin. Lagian kayak sempet aja nulis kayak gitu, orang soal ujian terakhir aja masih belom kejawab semua. Ckck. =p

Jumat, 19 November 2010

between you

it's you who are so mother-hearted.
adorable to see you around us. no one thinks you're bad because you're always nice.
you have him. and you are so strong to have him not responding to yours. but your heart still there waiting for sure.

it's you who are so excellent.
people ask so many things to you just because you can solve anything logically. but when you can't you honestly say it then.
you have someone that just into you. but you are still standing to protect your heart from any broken and you really do yours.

it's you who are so unexpected.
we see you as so much different one. but you can do many better than us. and you are so fresh about anything that come from your mind.
you have deep feeling to him who are so great, unreachable for simple. but you can still believe in yourself and pray you can get the best as him.

i lost mine.
now i just have nothing like you.
glad for you girls... =)

Selasa, 10 Agustus 2010

Malam 1 Ramadhan

Mungkin hingga saat ini, malam 1 Ramadhan ini adalah yang terindah yang pernah saya alami. Mungkin malam 1 Ramadhan kemarin lalu juga tak kalah indah, tapi malam ini saya mendapat kejutan yang tak terkira. Yang memang saya harapkan. Yang saya tunggu-tunggu. Yang berhasil membungkam saya seribu bahasa..


Setelah seharian berkelana di luar kosan dan ternyata gagal mendapatkan tarawih pertama tahun ini, saya merasa sungguh kelelahan. Hingga salah satu sahabat saya yang membangunkan saya di tengah ketiduran saya dan ternyata ada sebuah kejutan.


Kalau disuruh menggambarkan bagaimana malam ini, saya masih bisa menuangkannya disini. Tapi entah mengapa saya ingin ingatan ini cukup menjadi ingatan indah seperti ulangtahun-ulangtahun kedua sahabat saya sebelum-sebelumnya. Cukup menjadi kenangan tak terlupakan di ingatan saya, Ustica, Veterina, Putri Sugi, Fadilla, Ratih, dan Silvania. Tak lengkap memang tanpa Elmy, namun ia tak terlupakan tadi. Terimakasih kawan-kawanku sayang...


Ahh, tuh kan. Padahal rasanya ada begitu banyak yang ingin saya sampaikan, tapi langsung kehilangan semuanya saat mengingat momen-momen tadi..


Strawberry cheesecake yang terasa lebih spesial (dan kemudian jadi lebih membuat perut kekenyangan) ditambah tindakan pencegahan kalian terhadap saya yang akan memakan strawberry yang tidak terlalu bagus yang ada di atas kuenya (kenapa ya kata kalian? saya sudah iya-iya saja saking speechlessnya tadi!!!) dengan memberikan seikat kantung strawberry yang memang terlihat lebih segar. Serta sebotol pil obat kegalauan dari kalian, dengan warna ungu yang aku sukai dan botol antik yang sangat menarik. Sungguh super sekali!!!


Banyak yang saya harapkan yang tidak bisa hanya saya pikirkan sekilas tadi sebelum meniup lilin ataupun memotong kue pertama kali. Semuanya saya harapkan yang terbaik selalu untuk kita semua. Mulai dari yang paling simple hingga yang terumit barangkali?
Semoga kuliah yang kita tempuh lancar dan benar-benar bisa mendatangkan manfaat yang berarti untuk kita semua,
semoga perjalanan kita di dunia ini selalu dilancarkan oleh Allah SWT,
semoga kita selalu dimudahkan saat dihadapkan oleh suatu cobaan,
semoga selalu ada orang yang menyayangi kita, tanpa pamrih, tanpa apa-apa,
semoga kedua orangtua kita, keluarga kita, selalu dilimpahkan rahmat dan anugrah dari Yang Maha Kuasa dan selalu mendapat perlindungan-Nya,
semoga akhirnya pencarian terhadap pasangan hidup akhirnya berakhir pada seseorang yang memang benar-benar tepat dan tak membutuhkan penantian yang berlarut-larut,
semoga kehidupan ini selalu mendatangkan manfaat dan segala mudharat dibersihkan atau dijauhkan saja sekalian,
hihihihihihihi,
amin.


Terimakasih...
Ustica Haedy Riastuti dan Veterina Nosadila Riaventin,
Putri Sugi Permatasari,
Fadilla Paramitha,
Ratih Hardian,
Silvania,
Elmy Yasinta...


Love you!!!


well,
kalo namanya ada yang salah tulis,
maklum ya :p
tanpa liat fesbuk sama sekali soalnyaa :p

Minggu, 01 Agustus 2010

My August 1st in this 2010..

19 tahun,
bukanlah waktu yang sebentar untuk meraup kesempatan..
bukanlah hal yang remeh untuk dipertimbangkan..
bukanlah saat yang sedikit untuk dikenang...

merenung dan berpikir..
alhamdullillah aku punya keluarga yang cukup menghangatkan,
mempunyai sahabat yang setia mengiringi,
ada teman yang tak urung mengelilingi..

bukan kehidupan namanya kalau tidak ada masalah yang datang menghadang..
meskipun aku mungkin masih belum bisa dikategorikan tegar,
akan tetapi banyak tempat bersandar yang entah sering bosan atau tidak menerimaku..

tulisan seorang sahabat di umurnya yang ke 19 tahun membuatku berpikir mengenai kedua orangtuaku..
menyentuh kalbu,
seakan tak berhenti mengingatkanku,
betapa mereka adalah kunci dari kehidupanku..
meskipun kenyataannya, aku masih belum bisa terlalu terbuka,
kepada mereka, dan tentang mereka..

namun kembali lagi kuingatkan, aku punya sandaran di sampingku..
sahabat-sahabat yang sering tak terlihat walaupun sebenarnya ada..
sedia di sampingku ketika semua teman menyakitiku,
padahal mereka yang justru banyak mengisi hariku..

kehidupan merupakan ladang pelajaran..
hanya dengan sedikit tulisan di halaman ini,
cukup memukul banyak diriku,
mengingatkanku mengenai pelajaran-pelajaran kehidupan,
yang ada namun sering terlupakan..

ahh,
jadi ingat hobiku mengutip quote-quote yang bagus,
namun sebenarnya aku tak suka kalau quote itu hanya sempat terkutip sejenak.
huh.

19 tahun yang selalu sama adalah ketiadaan seorang 'Prameswara' di sampingku. Mengapa Prameswara? Tidak pangeran saja? Atau pujaan hati saja? Atau pendamping hidup saja? Karena semuanya terlalu klise bagiku. Yang bisa menjadi teman, sahabat, pengayom hati, pelipur lara, penuntun, kekasih hati, sejauh ini hanya terwakilkan oleh sosok Prameswara. Yang hatinya setia pada satu wanita, bahkan saat ia tak bisa mengikatkan hubungannya dalam ikatan pernikahan, bahkan hingga akhirnya ajal menjemputnya dulua. Prameswara, sebagai perwakilan perasaan agung itu, ya, perasaan itu.

tiga tahun ini terlalui dengan tiga orang berbeda yang tidak masuk ke dalam daftar obsesi hati. wow. satu menghilang, satu pergi. jadi yang satu ini, tak inginku ia pergi. what i'm wishing in this (spesial) day? you're going nowhere but here.

All of you, going nowhere but here.
Itu sih yang sebenernya mau aku sampein =)
Terimakasih atas segalanya,
I know, aku memang sering ngerepotin,
But that's me, who's still trying to create myself better and better..


with love,
Nuli Rahmasari
(LivaLea Marie Cabbot)
01 Agustus 2010